Penyebab Perpecahan Umat Islam dan Solusinya (bagian 1)





“ Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab Al-qur’an dengan(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah agama yang bersih” (Az-zumar : 2-3)

Saudara-saudara ku sekalian ada sebuah pertanyaan penting sekaligus mengherankan kita semua, “mengapa para pemuka agama, para ulama. Dan para ahli tarekat sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, taufik, dan restu dari-Nya saling bertikai, sementara para ahli dunia, kaum yang lalai, bahkan kaum yang sesat dan munafik justru bersatu tanpa ada pertikaian dan demikian antara satu dan lainnya? Padahal keharmonisan tersebut seharusnya menjadi milik kelompok yang mendapatkan taufik, bukan milik kaum yang munafik dan celaka. Bagaimana kebenaran dan kebatilan itu  bisa bertukan posisi?

Sebagai iawabannya, kita akan menjelaskan tujuh saja dari banyak faktor yang menyebabkan timbulnya kondisi yang menyedihkan itu:

Faktor pertama :

Perselisihan ahlul Haq bukan karena mereka tidak berpegang pada kebenaran. Sebaliknya, keharmonisan dan persatuan kaum yang sesat bukan karena mereka tunduk pada kebenaran. Akan tetapi, tugas dan pekerjaan ahlul dunia, politikus, cendekiawan, serta berbagai lapisan masyarakat lainnya sudah jelas dan berbeda. Setiap kelompok, jama’ah, dan perkumpulan memiliki tugas masing-masing dan tentunya upah materi yang mereka dapatkan atas pengabdian mereka itu juga sudah jelas dan berbeda satu dengan yang lain. Demikian juga dengan upah psikologis yang mereka dapatkan seperti, penghargaan, popolaritas, dan kemashuran begitu jelas, khusus dan berbeda satu dengan yang lainya. Dengan demikian, tidak ada yang menjadi faktor penyebab timbulnya persaingan, pertikaian, atau kedengkian di antara mereka. Juga tidak ada alasan bagi mereka berdebat dan bertikai. Karena itu, mereka bisa harmonis meskipun sedang meniti jalan yang rusak.

Adapun para pemuka agama, para ulama, dan ahli tarekat, tugas masing-masing mereka tertuju kepada seluruh masyarakat, upah duniawinya tidak jelas begitu juga dengan kedudukan sosial dan penghargaan yang mereka dapatkan. Ada banyak calon bagi sebuah kedudukan serta ada banyak tangan yang menginginkan  upah materi maupun psikologis. Dari sinilah muncul pertikaian, persaingan, kedengkian, dan kecemburuan. Sebagai akibatnya, keharmonisan berubah menjadi penyakit nifak dan kesatuan berubah menjadi perpecahan.

Penyakit kronis ini tidak akan sembuh kecuali dengan diberi obat ikhlas yang benar-benar mujarab. Dengan kata seseorang harus berusaha mengaplikasikan firman Allah yang berbunyi :
“ Upahku ada ditangan Allah (Yunus : 72)”

Caranya adalah dengan lebih mengedepankan kebenaran dan petunjuk ketimbang mengikuti hawa nafsu dan egoisme, serta dengan mewujudkan perintah al-qur’an ini.

“ kewajiban Rasul Hanyalah menyampaikan secara nyata” An-Nur 54).

Yaitu dengan tidak mengharapkan upah materi dan psikologis dari manusia, sekaligus menyadari bahwa pujian manusia, penghargaan dan penghormatan mereka berasal dari karunia Allah semata. Sama sekali bukan karena tugasnya yang hanya sekedar menyampaikan. Sehingga berhasil mendapatkan keikhlasan. Jika tidak ia akan kehilangan keikhlasan.

Faktor kedua :

Kesatuan kaum yang sesat bersumber dari kehinaan mereka, sedangkan perbedaan kaum yang mendapatkan hidayah bersumber dari kemuliaan mereka. Sebab, karena ahli dunia, kaum yang sesat dan lalai itu tidak berpegang pada kebenaran, maka mereka dalam keadaan kondisi yang lemah dan hina. Mereka sadar bahwa mereka perlu mendapatkan kekuatan, memproleh bantuan, serta bersatu dengan yang lain. Mereka sangat membutuhkan persatuan tersebut meskipun berada dalam jalan kesesatan.  Seolah-olah mereka mendukung kebenaran dalam kebatilan, tulus dalam kesesatan, menampakan keteguhan dalam kekufuran, serta bersatu dalam kemunafikan, sehingga mereka berhasil. Sebab, keikhlasan yang tulus, meskipun dalam hal kebatilan, takkan hilang percuma dan takkan sia-sia. Ketika seseorang meminta sesuatu dengan tulus ikhlas, Allah akan memberikan untuknya.

Sementara kaum yang mendapat hidayah, para ulama, dan para ahli tarekat, karena mereka bersandar pada kebenaran, karena mereka masing-masing mereka hanya berpikir ridha Allah di jalan mereka dan bersandar pada taufik-Nya, maka mereka memiliki kehormatan secara maknawi yang bersumber dalam perjalanan mereka. Ketika mereka merasa lemah, mereka berlindung dan meminta bantuan kepada Allah ketimbang kepada manusia. Maka mereka tidak merasa perlu bantuan dari orang-orang yang secara lahiriah bersebrangan akibat perbedaan jalan dengan mereka.

Ketika kesombongan dan egoisme telah mengantarkan seseorang pada sangkaan bahwa dirinya merasa benar sementara yang lainnya salah, maka ketika itulah terjadi perpecahan dan persaingan sebagai ganti dari persatuan dan kecintaan. Dengan demikian, ia tidak lagi ikhlas serta amalnya menjadi runtuh.
Solusi satu-satunya bagi kondisi diatas serta penangkal yang bisa menghindarkan dampak buruknya adalah :

  1. Betindak secara positif. Yaitu seseorang yang bergerak sesuai dengan kecintaan terhadap jalannya. Permusuhan jalan yang lain dan kekurangan orang lain tidak berpengaruh terhadap fikiran dan pengetahuannya serta ia tidak sibuk dengan mereka.
  1. Bahkan ia harus mencari ikatan-ikatan kesamaan yang bisa menyatukan berbagai aliran dalam islam apapun bentuknya dimana berbagai ikatan itu bisa menumbuhkan rasa cinta serta menjadi sarana persaudaraan dan persatuan.
  1. Setiap pengikut mazhab atau jalan yang benar boleh berkata “ mazhab atau jalanku  benar dan lebih utama” tanpa mencampuri mazhab dan jalan orang lain. Ia tidak boleh berkata “ yang benar adalah mazhab atau jalanku saja” atau, “kebaikan dan keindahan hanya ada pada mazhab atau jalanku” yang hal itu berarti menyalahkan mazhab  atau jalan lainnya.
  1. Mengetahui bahwa bersatu dengan kelompok yang benar merupakan salah atu sarana untuk mendapatkan taufik ilahi sekaligus salah satu penyebab kemuliaan Islam.
  1. Ketika kelompok yang sesat dan batil yang dalam bentuk jama’ah mulai menyerang kelompok al-haq , memahami bahwa pertahanan yang bersifat pribadi yang paling kuat kalah terhadap mereka seraya membentuk pribadi kolektif dengan persatuan diantara ahlul haq dan menjaga kebenaran terhadap pribadi kolektif kelompok sesat. Juga untuk menyelamatkan kebenaran dari kelompok sesat.
  1. Meninggalkan sifat sombong dan egosme.
  1. Meninggalkan kehormatan yang disalah artikan.
  1. Meninggalkan perasaan persaingan yang tidak penting.

Dengan lapan unsure diatas, keikhlasan akan dapat di peroleh serta manusia akan dapat menjalankan tugasnya secara tepat dan benar

(Dikutip dari blog LDF Al-Mizan dari buku Alama'at karangan Ust. Said Nursi)

6 Responses to " Penyebab Perpecahan Umat Islam dan Solusinya (bagian 1) "

  1. Salam. tulisannya sudah lumayan bagus. tapi masih banyak kata yg typo dan terpotong atau kurang ya :), mungkin menulisnya sambil mengantuk atau terlalu cepat.

    ReplyDelete
  2. penggunaan transliterasi jga masih kurang baik, seperti kata "factor" seharusnya di tulis menjadi "faktor", egoism seharusnya di tulis "egoisme', dan masih ada beberapa kata yg lain lagi yg kurang tepat dalam penulisannya.

    ReplyDelete
  3. Dikoreksi yang kayak ane bilang tadi ya akh... LMIIW.

    ReplyDelete
  4. Alhmdulillah syukran katsiran akhiler ๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
  5. Alhmdulillah syukran katsiran akhiler ๐Ÿ˜„

    ReplyDelete