Berdakwah melalui pendidikan


(Hioca Efendi Muhammad Fethullah Gulen)
Cendikiawan  Muslim kontemporer yang sangat terkenal Ustad Bediuzzaman Said Nursi  mengatakan dalam bukunya risalah an-nur. Dimana beliau telah mendiagnosis penyakit umat Islam pada abad ini. Kemudian beliau menyimpulkan, bahwa ada tiga penyakit kronis yang menghinggapi umat Islam di dunia saat ini. Penyakit tersebut antara lain, adalah Kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.
Penyakit-penyakit tersebutlah yang menyebabkan kita, sebagai umat Islam terperosok dalam lembah kegelapan. Dan sungguh benar yang disampaikan syeikh Ibnu Taymiyyah, dimana beliau menjelaskan bukan Islamlah yang merusak tatanan kehidupan saat ini akan tetapi kita sebagai individu-individu muslim yang tidak menjalankan islam secara kaffah. Di lain hal, juga disebutkan sebuah kisah, ketika Syeikh dari Sambas (sebuah daerah di kepulauan kalimantan) mengirimkan pertanyaan kepada Syeikh AlpArselan seorang ulama Usmaniyyah. Beliau menanyakan mengapa umat Islam terpuruk dan selain umat Islam bangkit dari keterpurukan? Jawaban Syeikh AlpArselan sangat singkat namun memberikan makna yang mendalam serta menghujam kesanubari hati kita. Beliau mengatakan, keterpurukan umat Islam adalah dikarenakan mereka meninggalkan agamanya. Sedangkan kebangkitan kaum selain Islam dikarenakan mereka meninggalkan agamanya yang bathil beralih kepada ilmu pengetahuan. Bukankah dalam konteks ini Allah Maha Adil ketika umat Islam meninggalkan Alquran yang merupakan sumber hikmah dan tatanan Ilmu pengetahuan Allah menimpakan kepada kita keterpurukan didalam segala bidang pengetahuan, sedangkan bagi siapapun yang berusaha meraih Ilmu Allah maka Allah akan memberikan sesuai dengan kadar usahanya.
Di akhir abad ke-19 di ujung kehancuran tatanan ke khalifahan Usmaniyyah syeikh Bakhit seorang mufti Al-Azhar khairo berkunjung ke Turki dan menanyakan kepada Ustad Bediuzzaman Said Nursi tentang Negara Usmani dan Eropa maka beliau mengatakan Bahwa Usmani sedang mengandung Eropa dan suatu saat nanti akan melahirkan negara Eropa, sedangkan Eropa sedang mengandung Islam dan suatu saat nanti akan melahirkan negara Islam.  Secara tidak langsung prediksi yang di sampaikan oleh Ustad bediuzzaman Said Nursi sangat benar dan tepat. Karena, saat ini kebanyakan dari masyarakat Turki dan negara-negara yang mayoritas bergama Islam pada umumnya telah mengikuti budaya-budaya Eropa dalam semua bidang kehidupan. penulis sendiri melihat langsung penomena-penomena ini, ketika berkunjung ke negara tersebut,  dimana seorang lelaki lebih baik berdiam dirumah daripada keluar  yang mengakibatkan rusaknya keimanan karena melihat segala sesuatu yang tidak patut dilihat. Ya Rabbi beginilah kehiduan kami pemuda-pemudi di abad ke-21 ini. Keimanan kami goyah, dan lingkungan kami berantakan dari moral ajaran-Mu. ya Rabbi bimbinglah kami. Jika ditilik lebih dalam dan berdasarkan penelitian yang baru-baru ini di lakukan, negara yang dari segi kehidupan dan tatanan sosial masyarakat yang sangat Islami justru ada di negara-negara eropa terkhususnya di negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Swiss, Swedia, Denmark dan lain-lain. Entah Eropa akan berubah menjadi islam dalam bentuk harfiah, dimana  masyarakatnya akan berbondong-bondong memeluk agama yang rahmatan lil ‘alamin ini dan dengan bukti-bukti nyata yang telah mereka telaah. Ataukah hanya tatanan sosial mereka saja yang sesuai dengan asas-asas Islam wallahu ‘a’lam.
Dari permasalahan-permasalahn pelik yang kita alami semenjak abad ke-19. yang sedikit dipaparkan diatas. Semuanya bermula dari merebaknya penyakit  kebodohan dilingkungan kita. Salah satunya adalah penyakit taklid buta semakin merebak. Sebagai   contoh dalam buku Dr. Assalabi yang berjudul Bangkit Dan Runtuhnya Dinansti Usmaniyyah beliau mengatakan bahwa di akhir abd-abad keruntuhan Usmani, banyak tekke (tempat para sufi berkumpul) tidak lagi berfungsi sebagai mana tempat pengajaran agama yang dulu menjadi wasilah tersebarnya Islam di penjuru negara-negara Balkan dan Eropa bagian Timur. Namun, kini tempat tersebut sudah dipengaruhi oleh tarian-tarian dan diskusi yang dipenuhi oleh kezumudan berfikir. Dilain sisi madrasah sebagai pencetak generasi Ilmu pengetahuan dan alim ulama pada akhir abad keruntuhan negara Islam banyak diajar oleh anak-anak ulama yang notabene masih muda dan belum mepunyai wawasan keilmuan yang mumpuni, dimana pada kasus tertentu banyak dari kalangan alim ulama menunjuk anak-anak mereka sebagai pewaris setelah mereka, walaupun di satu kondisianak-anak mereka belum menguasai Ilmu seperti mereka.  Sehingga merebaklah penyakit kebodohan dimana-mana. Penyakit ini juga menyusupi kalangan bangsawan dan militer. pada akhirnya rokok, zina dan minuman beralkohol lainnya, bukan lagi merupakan hal yang tabu ketika itu.  disebabkan oleh-penyakit-penyakit inilah  girah militer di dalam masyarakat Usmani yang terkenal dengan semangat jihadnya meredup sehingga pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 Usmani kalah telak dalam perang dunia pertama dan peperangan yang lainnya. Tak dapat dipungkiri karena situasi kekalahan ini disebabkan oleh penyakit-penyakit kebodohan yang kita alami. Baik di negara Turki sendiri maupun negara-negara Islam lainnya.
Penyakit kebodohan ini, semakin kian hari terus menjangkiti masyarakat dunia Islam. Ketika kita sudah terkungkung oleh penyakit kebodohan. Maka, penyakit yang lebih parah akan timbul yaitu penyakit kemiskinan. Betapa banyak sumber daya alam kita yang kita tidak mampu mengelolanya karena ketidak ahlian kita dalam mengelolanya. Bagaimana bisa tambang–tambang  yang ada di negara-negara umat Islam pada umumnya dikelola oleh masyarakat yang notabene minim sumberdaya alam. Bagaimana sebuah benda yang bernama emas yang sangat bernilai harganya di daerah  kaya Papua. Namun,  penduduknya tetap miskin dan menjadi salah satu termiskin di Indonesia.
Republik demokrasi Kongo merupakan sebuah negara penghasil sumber daya batu brilian terbaik di dunia. Namun, bagaimana mungkin rakyatnya tetap miskin. Negara dengan sumber daya berlian yang berkualitas, namun sangat disayangkan yang memegang hak patennya adalah salah satu Negara Eropa. Rakyat Kongo tetap miskin dan sengsara. Bukan karena kita tidak mampu mengelolanya namun karena ada tangan-tangan di balik layar yang tidak suka jika sebuah bangsa bangkit dari keterpurukan,  dikarenakan kepentingan mereka akan terganggu. Sehingga rakyat dengan sengaja dibiarkan miskin dan sengsara agar mudah untuk di bodohi dan diberdaya.
Ketika hegemoni dunia barat semakin maju dengan ilmu pengetahuan dan sainsnya barulah kita tersadarkan  betapa terpuruknya kita dalam hal pendidikan dan sains. Alih-alih kita mengejar ketertinggalan, namun alangkah sangat disayangkan banyak dari cendekiawan-cendekiawan kita yang membuat terobosan yang (mohon maaf) berada diatas jalur ke khilafan, dengan cara menciplak secara utuh ilmu pengetahuan dan budaya barat yang terkadang tidak sesuai dengan dimensi asal pemikiran dan  budaya timur kita. Sampai pada kondisi, dimana sebagian dari mereka mengatakan: “untuk menjadi sebuah tatanan masyarakat maju, kita harus meninggalkan tatanan agama Islam yang lusuh dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman lagi” (na’uzubillahi minzalik). Sehingga kita mengekor dan mengikuti tatanan budaya mereka. Sampai pada sebuah pernyataan jika mereka masuk lubang buaya kita juga dengan senang hati memasukinya.
Penyakit taklid buta terhadap hal-hal apa saja yang dihasilkan oleh pabrikasi dunia barat ini. Juga dimanfaatkan oleh mereka untuk memperparah tatanan masyarakat kita. Ya, tentu kita mengetahui dengan jelas di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 barat dengan cabang kolonialismenya mendirikan sekolah-sekolah untuk penduduk pribumi di daerah jajahannya. Dengan maksud agar dapat melanggengkan kekuasaan mereka di negara tersebut. Agar anak-anak pribumi di jauhkan dari agamanya. Sehingga ketika generasi muda jauh dari ajaran agama dan jauh dari al-qur’an dan sunnah maka sangat mudah bagi mereka menyusupkan ajaran-ajaran serta doktrinasi-doktrinasi keliru yang pada akhirnya, kita sebagai generasi muda bangsa menjadi musuh untuk negara kita sendiri. Menjadi tameng bagi mereka untuk melanggengkan kekuasaan mereka di negeri kita tercinta.
Banyak alumni-alumni pribumi dari sekolah yang mereka dirikan menjadi pembuat keputusan penting di negeri asalnya. Apakah itu menjadi Mentri, Pengusaha, Pedagang, dan tempat-tempat strategis lainnya. Secara kasat mata ini merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa, namun jika ditilik secara mendalam.  Ternyata tidak sedikit yang menjadi kaki tangan mereka dan menjadi duri dalam daging bagi negeri kita tercinta. Hal inilah yang terjadi pada akhir-akhir kekuasaan khilafah Usmani. Banyak dari mentri-mentri Usmani yang seharusnya menjadi tulang punggung dalam memajukan Islam justru secara tersembunyi maupun terang-terangan memusuhi Islam dan menghancurkan Islam dari dalam. Dan inilah, penyakit yang menghancurkan ke Khalifahan Usmani dan menghapusnya dari peta dunia. Mengutip perkataan Rafiq Efendi (Kalau penulis tidak salah) seorang perdana mentri Usmani di zaman Sultan Abdul Hamid II. Ketika mereka mengunjungi Negri Francis. Utusan Francis menanyakan kepada Rafiq Efendi siapa yang menjadi musuh besar yang menghancurkan Usmani. Maka beliau menjawab yang menghancurkan Usmani adalah orang-orang yang mempunyai jabatan penting di kesultanan Usmani itu sendiri. Karena kalau musuh dari luar seperti Inggris, Austria, Jerman,Rusia dan Francis bisa kami kalahkan dan kami pukul mundur.
Ya begitulah kondisi yang terjadi pada tatanan masyarkat kita saat itu maupun saat sekarang ini. Yang menjadi musuh terbesar kita bukanlah orang-orang yang berada di luar lingkungan kita. Yang menjadi musuh terbesar kita adalah orang-orang yang berada di dalam lingkungan kita sendiri. Dan itulah hasil dari strategi pendidikan yang di rencanakan oleh kolonialis terhadap negeri jajahannya. Alih-alih tatanan masyarkat kita semakin cerdas dan berpendidikan. Namun sangat disayangkan tujuan akhirnya adalah untuk menambah kebodohan dan perpecahan di antara masyarakat kita sendiri.
Kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan  ini semakin diperparah  ketika masyarakat tidak memiliki ilmu pengetahuan dan miskin. Maka,  sangat mudah untuk di adu-domba. Perpecahan di dalam masyarakat pun akan terjadi. Tidak usah repot-repot menjelaskannya. Di negara-negara Islam banyak terjadi perang saudara. Suriah, Irak, Mesir,  Libya, Tunisia misalnya. Kita sangat mudah di adu domba. Mudah di pecah belah mudah memerangi saudara-saudara kita. Ya, ada satu ungkapan yang mengatakan “yang membunuh dari kita dan yang terbunuh juga orang kita. Sedangkan yang bertepuk tangan adalah orang-orang di luar kita”. Bukankah Allah Swt. Dalam kalamnya Al-qur’an mengatakan berpegang teguhlah kita semua pada tali Allah dan janganlah berpecah belah. Bukankah barang siapa yang membunuh seorang mukmin yang tidak berdosa maka ganjarannya adalah neraka jahannam dan ia kekal didalamnya.
Inilah perpecahan yang kita alami sekarang, perpecahan yang menghancurkan kita. Menghancurkan generasi-genarasi masa depan. Menghancurkan cita-cita kebangkitan. Apakah ada solusi dari tiga rantai penyakit umat Islam saat ini? Jawabnya pasti ada sebagaimana Allah dalam kalamnya Al-quran mengatakan janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Dan kita harus senantiasa berusaha sembari mengharap ridha Allah untuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang kita alami.
Ustad Beiduzzaman Said Nursi mengatakan salah satu obat dari penyakit kronis kebodohan ini adalah dengan membuka pintu pendidikan. Pendidikan adalah sarana dimana setiap pemuda-pemudi dan seluruh elemen masyarakat mampu menikmati, mengenyam ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kemampuan serta kapasitas penyerapannya. Pendidikan adalah, dimana tabir-tabir kebodohan bisa terhapus dan digantikan oleh tabir-tabir ilmu pengetahuan. Ustad Bediuzzaman Said Nursi juga mengatakan; “pendidikan adalah bagaimana menyatukan antara pengetahuan akal dan qalbu. Akal adalah sumber daya fikiran yang cemerlang yang dianugrahkan  Allah swt Kepada kita. Sebagai pembeda antara baik dan buruk”. Namun, akal mudah terombang ambing oleh nafsu  Sedangkan qalbu adalah pengikat ruh. Sebuah wahana dimana bersemayamnya keimanan di dalam sanubari hati seorang  insan. yang menjadikan seorang insan berkepribadian malaikat dalam setiap tindakannya. Disinilah pentingnya keseimbangan antara akal dan kalbu. Sebagaimana seekor burung tidak bisa terbang jika salah satu sayapnya patah atau terluka. Ya, Ustad bediuzzaman mengajarkan kepada murid-muridnya akan pentingnya keseimbangan akal dan kalbu.
Model pendidikan yang memadukan keseimbangan akal dan kalbu ini jugalah yang mengilhami ulama karismatik Turki dan seorang cendikiawan besar yaitu, Hodja Efendi Muhammad Fetullah G├╝len yang memotivasi murid-muridnya untuk mendirikan sekolah-sekolah di berbagai negara yang ada di dunia, sebagai bentuk kampanye dalam mengatasi kebodohan umat manusia dan umat muslim pada khususnya. 
Sekolah yang memadukan pembelajaran rasional dan emosional, dimana Muhammad Fethullah Gulen Hodjaa Efendi didalam buku Bangkitnya peradaban Islam terus mengingatkan untuk menghasilkan  generasi-generasi baru yaitu para arsitek ruhani masa depan dalam rangka membangun peradaban gemilang dimasa yang akan datang. Dan harus mendidik generasi tersebut dengan metode memadukan antara rasional dalam berfikir, kematangan spiritual dan mempunyai daya estetika seni yang tinggi yang sesuai dengan kaidah-kaidah Islam rahmatan lil’alamin.
Sekolah-sekolah serta lembaga-lembaga pendidikan yang mampu membawa nilai-nilai universal. Saat ini seseorang hanya dapat kita sentuh dan kita rangkul dengan nilai-nilai universal tersebut. Nilai-nilai universal tersebut antara lain, adalah nilai-nilai sosial dan  kemanusiaan. Karena memang tidak ada perbedaan antara orang Afrika, Asia, Eropa maupun Turki karena semuanya adalah sama-sama manusia. Pada akhirnya nilai-nilai universal inilah yang akan mendapatkan apresiasi yang sangat besar oleh semua elemen masyarakat.
Ya, ketika generasi-generasi muda bangsa telah mendapatkan pendidikan yang seimbang antara akal dan kalbu dalam naungan al-qur’an serta nilai-nilai universal  tentu suatu saat nanti, mereka akan memegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa serta dapat  menjalankan roda kehidupan sebuah bangsa dengan nilai-nilai rahmatan lil’alamiin yang berusaha menghabiskan waktu terbaiknya untuk memberikan pengabdian kepada agama dan masyarakat. Generasi yang lahir dari model pendidikan inilah yang insya Allah akan mampu menaungi  masyarakat. Membuka belenggu-belenggu penyakit kebodohan. Mengurai lilitan-lilitan tali kemiskinan, serta menutup rapat-rapat pintu perpecahan. Dan semoga generasi yang mendapatkan model pendidikan ini mampu merangkul semua kalangan masyarakat dengan semboyan saling berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah.


0 Response to " Berdakwah melalui pendidikan "